Kamis, 27 Maret 2014

Learn More


Aku terbangun dengan keringat yang mengucur deras. Mimpi itu seakan nyata! Seakan film yang diputar kembali sepenggal demi sepenggal. Tapi aku tak dapat menguraikannya! Aku tak dapat mengingatnya! Aku melirik arloji coklat kesayanganku yang menunjukkan pukul 13.14 WITA. Aku bangkit dan bergegas membasuh wajah. Rileks.
Aku membuka jendela dan membiarkan angin siang menerpa wajahku. Aku melirik bnda persegi mungil yang bergetar di atas meja. Aku meraihnya dan melihat setiap digit yang tertera pada layar HPku. Fikiranku mulai tak tenang. Rasa sesak memenuhi rongga dadaku. Aku tahu nomor itu. Walau tanpa nama! Kembali terulang kejadian 1thn lalu, kejadian yang masih menyimpan luka yang belum kering dan tak akan pernah mengering. Aku mulai memejamkan mata kuat-kuat akibat buliran yang berjatuhan. Panggilan berakhir!
Aku menaruh kembali benda tersebut. Menjauh. Hening. Tak berapa lama, benda mungil tersebut kembali bergetar, namun hanya sepersekian detik. Lega. Kemudian, bertubi-tubi sms menghampiri inboxku. Aku makin frustasi. Semua luka yang ku coba tutupi kini kembali menganga. "Angkat teleponku. Ku mohon" isinya hanya itu. Singkat. Namun menguras semua tenagaku. Tak berapa lama panggilan kembali masuk, tapi ada sedikit rasa ragu menghampiriku saat hendak mengangkatnya. Sudah cukup 9bln bagiku menunggunya!
Dulu aku hanyalah pemujanya yang menunggunya berbulan-bulan demi dia kembali. Dia adalah dia, yang tak bisa membuatku mencintai orang lain. Dulu! Aku terdiam cukup lama. Memandang benda mungil itu dalam ruang semuku yang berlapis gelap. Bayang-bayang itu kembali berdegub di dalam nadiku. Tiba-tib auranya menguar ke segala penjuru. Semua serasa dalam kotak dimensi dimana aku dihadapkan kejadian 1thn lalu. Saat dimana aku dan dia tengah berbincang-bincang. Bahagia. Namun, bahagia di wajahnya seketika pudar. Dia mengucapkan sesuatu. Aku tak dapat mendengarnya! Bising! Aku hanya melihat diriku menangis lalu pergi meninggalkannya yang tertunduk lemas! Sakit. Rasa sesak itu kembali muncul dan menarikku ke dunia nyata. Panggilan itu belum berakhir. Aku memberanikan diri mengangkatnya.
"Halo", "Kamu darimana aja?", "Aku.. Tadi.. Ehmm gue ketiduran", "Maaf", "Buat apa?", "Buat segalanya", "Lupain aja", "Tapi aku bener-bener minta maaf, Git", "Nama gue Indhry, bukan Githa lagi!", "Farah meninggal, tapi aku bersyukur telah membalas cintanya walau itu beresiko kehilangan satu-satunya cewek yang aku sayang", "Lo ngomong apa sih!?", "Aku mau kamu kembali".
Suara petir tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Tiba-tiba semua terlihat begitu nyata. Ekpetasiku hancur sudah. Ternyata semua hanya semu. Semua yang ada dalam pikiranku. Mereka beradu dalam ilusi. Tak ada percakapan yang sistematis terjadi. Aku menatap benda itu. Ada 25 panggilan tak terjawab. Dia tak menelponku lagi. Kecewa. Lega. Aku akan terus mengenang dirinya. Sosok terhormat yang telah menjadi bagian dari kisah romanku  DULU.

Ini bukan cerita Fiksi atau apapun yang kalian sebut. Ini aku alamin sendiri :') Terserah kalian mau percaya atau tidak. Aku hanya ingin berbagi cerita. Aku menunggunya 9bln lamanya dan tak sebanding dngan masa pacaranku dulu :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar